Lompat Tinggi: Gaya, Teknik Dasar, Pengertian, Ukuran Lapangan (Lengkap)

Lompat Tinggi: Gaya, Teknik Dasar, Pengertian, Ukuran Lapangan (Lengkap)

Kali ini kita akan membahas apa itu lompat tinggi, bagi Anda yang baru tau atau Anda yang ingin mengetahui lebih mendalam lagi apa itu lompat tinggi.

Olahraga lompat tinggi ini sering kita dengar atau bahkan banyak diantara kita yang juga hobi dengan lompat tinggi, tapi sudah tahukah apa itu pengertian lompat tinggi, peraturan yang ada dalam lompat tinggi, gaya-gaya lompat tinggi dan ukuran lapangan lompat tinggi?

Naah di sini kita akan membahasnya secara lengkap dan mudah untuk di pahami.

Pengertian Lompat Tinggi

Pengertian lompat tinggi

Lompat tinggi adalah salah satu cabang olahraga atletik yang mengandalkan kekuatan otot kaki dan otot perut. Dimana sang atlet harus melakukan lompatan setinggi-tingginya melewati mistar yang sudah ditentukan ketinggiannya. Lompat tinggi juga dilakukan tanpa bantuan alat bantu.

Dalam pertandingan, ketika atlet sudah bisa melewati ketinggian mistar tertentu, maka mistar akan dinaikkan sampai mencapai lompatan tertinggi dan sudah tidak bisa dilewatinya lagi. Dalam dunia lompat tinggi, lompatan tertinggi yang pernah tercatat yaitu 2.45 meter yang ditaklukkan oleh Javier Sotomayor pada tahun 1993.

Untuk melakukan lompatan sendiri memiliki beberapa teknik atau gaya yang selama ini dipakai atlet-atlet lompat tinggi.

Gaya Lompat Tinggi

Lompat tinggi memiliki beberapa gaya yang populer dan dipakai hingga saat ini, berikut 4 macam gaya lompat tinggi beserta teknik dasar lompat tinggi dari setiap gaya.

1. Gaya Guling (Teknik Straddle)

Lompat tinggi gaya straddleLompat tinggi gaya straddle merupakan gaya yang paling sering digunakan atau dominan dalam perlombaan lompat tinggi sebelum pengembangan gaya Flop. Charles Dumas merupakan pelompat tinggi pertama kali yang bisa menaklukan 7 kaki, dan John Thomas (medali perak di Olimpiade 1964) dengan gaya straddle ini.

Tahapan Teknik Dasar Lompat Tinggi Gaya Straddle:

1. Awalan

Tahap ini dilakukan dengan cara mengambil awalan dari samping antara 35 derajat sampai 40 derajat. Jarak awalan ini tergantung dari si pelompat, biasanya menggunakan langkah ganjil sekitar 3,5,7,9 langkah, tergantung pada ketinggian yang akan dilewati. Jika kaki yang digunakan sebagai tolakan dengan kaki kiri, maka arah serong yang digunakan untuk awalan juga dari kiri dan begitu pula sebaliknya.

2. Tolakan

Tolakan dilakukan dengan kaki yang terkuat dan dengan kaki yang terdekat dengan tiang mistar. Sementara kaki satunya diayunkan ke atas dan disilangkan dengan mengangkang hingga melewati mistar.

3. Melayang

Pada saat kaku ayun, kepala, bahu, dan bahu melewati mistar, kaki tolakan diangkat dengan posisi lurus sejajar dengan tubuh dan mistar.

Pada posisi ini, kepala dan bahu telah lebih dahulu melewati mistar dan berada dalam posisi meluncur ke bawah. Pada saat kepala, bahu dan dada diluncurkan ke bawah maka sisa seluruh anggota tubuh lainnya akan mengikuti dan bersiap untuk melakukan pendaratan.

4. Pendaratan

Dalam gaya guling, pendaratan dilakukan dengan menggunakan punggung sebagai tumpuan. Pada saat posisi jatuh, seluruh anggota tubuh yang telah melewati mistar di balikkan menghadap ke atas hingga kemudian tubuh mendarat di matras.

2. Gaya Gunting

Gaya gunting atau scissor ditemukan pertama kali oleh Michael Sweeney, gaya ini juga sering disebut dengan Gaya Sweeney. Sebelumnya di tahun 1880 Michael Sweeney menggunakan gaya jongkok, namun ia merasa gaya tersebut kurang tepat hingga akhirnya Mr. Sweeney mengubah gayanya menjadi gaya gunting.

Lompat tinggi dengan gaya gunting dilakukan dengan melompat menggunakan kaki kanan terlebih dahulu dan kaki kiri sebagai tumpuannya. Ketika kaki kanan sudah berada di atas mistar, maka kaki kiri ikut menyusul melewati mistar. Untuk pendaratannya dilakukan dengan menggunakan kaki kanan terlebih dahulu baru disusul dengan kaki kiri.

Tahapan Teknik Dasar Lompat Tinggi Gaya Gunting:

1. Awalan

Pada tahap awalan ini, atlet berlari ke arah depan dengan posisi sedikit serong ke kanan atau ke kiri. Arah serong kanan atau kiri ditentukan dari kaki mana yang akan digunakan sebagai tolakan dan arah start.

Jika atlet memulai start menggunakan kaki kiri sebagai tolakan, maka ketika berlari atlet akan serong ke arah kanan. Begitu juga sebaliknya, jika atlet memulai start dengan kaki kanan, maka ketika berlari ia akan sedikit serong ke kiri.

2. Tolakan

Pada tahap ini, kaki yang dijadikan tolakan yaitu kaki yang terjauh dari tiang mistar (kaki luar), dan kaki lainnya yang bukan sebagai tolakan (kaki ayun) diayunkan lurus kedepan atas menyilang mistar.

3. Melayang

Pada saat kaki ayun terjulur menyilang mistar, kaki tumpu (misal kaki kiri) segera di ayun lurus ke samping kanan dengan disertai memutarkan badan ke kiri, dan pandangan ke bawah. Saat itu pula kaki ayun (kanan) diayunkan lurus ke belakang sehingga kedua kaki seolah-olah seperti gerakan gunting. Ketika menjelang pendaratan, kaki kiri diayun laki ke kiri bawah, kaki kanan diayun ke belakang.

4. Pendaratan

Setelah melayang, maka saatnya pendaratan dilakukan dengan kaki tumpu terlebih dahulu, dengan sikap badan menghadap mistar.

3. Gaya Guling Sisi (Western Roll)

lompat tinggi gaya guling sisiGaya guling sisi atau werters roll hampir mirip dengan lompat tinggi gaya straddle. Gaya guling sisi (western roll) ini ditemukan pertama kali oleh George Horine dari Stanford University.

Tahapan Teknik Dasar Lompat Tinggi Gaya Guling Sisi:

1. Awalan

Pada tahap awalan ini dilakukan dari samping mistar dengan sudut serong sekitar 30-40 derajat. Arah awalan ini baik kanan ataupun kiri, tergantung pada kaki yang dipergunakan untuk melakukan tolakan.

Jika tolakan dilakukan dengan kaki kiri, makan awalan yang digunakan yaitu dari arah serong kiri pula, dan begitu juga sebaliknya.

2. Tolakan

Tolakan dilakukan dengan menggunakan kaki yang terkuat dan paling dekat jaraknya dengan tiang mistar. Kemudian setelah kaki melakukan tolakan, kaki ayun segera bergerak mengayun ke atas dan menyilang melewati mistar dan segera disusul dengan kaki tolakan.

3. Melayang

Setelah melakukan tolakan dan ayunan sampai tubuh melewati mistar, maka posisi tubuh telentang dan melayang hingga sejajar dengan mistar, dan saat itu juga kepala segera diturunkan agar jatuhnya seluruh tubuh mengikuti jatuhnya posisi kepala.

4. Pendaratan

Pada tahap ini, pendaratan dilakukan dengan menggunakan tumpuan kedua tangan yang kemudian segera disusul dengan kaki untuk mengurangi beban tangan. Posisi pada saat pendaratan ini merupakan posisi yang lumayan sulit bagi pemula dan berbahaya. Untuk menghindari itu, ketika melakukan pendaratan dengan gaya baiknya dilakukan dengan menggunakan tumpuan kaki.

4. Gaya Flop

Gaya Flop

Gaya ini dipopulerkan dan disempurnakan oleh seorang atlet Amerika Dick Fosbury, pada olimpiade musim panas 1968 ia mampu membawa medali emas dengan gaya barunya ini, dan membawanya menjadi perhatian dunia.

Tahapan Teknik Dasar Lompat Tinggi Gaya Flop:

1. Awalan

Pada tahap awalan ini dilakukan dengan cara berlari dengan kecepatan tinggi. Arah larinya adalah setengah lingkaran, yaitu dari sudut pojok depan berlari serong menuju mistar, bisa dari sisi kanan atau sisi kiri.

2. Tolakan

Tolakan dilakukan dengan kaki yang terkuat. Ketika kaki melakukan tolakan, posisi tubuh sejajar dengan arah lari atau sejajar dengan mistar. Tolakan tidak dilakukan di tengah mistar, melainkan sedikit ke pinggir dari arah lari, sehingga ketika mendarat tubuh akan jatuh di bagian tengah matras.

3. Melayang

Pada saat melakukan tolakan, secara bersamaan tubuh diputar membelakangi mistar, posisi ini posisi ini berbarengan dengan posisi tubuh yang melayang, sehingga ketika tubuh berada diatas mistar, posisi tubuh sudah menghadap ke atas kemudian diikuti dengan kedua kaku yang harus diangkat naik agar tidak mengenai mistar.

4. Pendaratan

Pendaratan gaya ini merupakan pendaratan yang paling berbahaya kalau kita salah memilih tempat pendaratan. Pendaratan gaya flop ini dilakukan dengan punggung dan posisi kaki dalam keadaan terlentang, sehingga harus menggunakan matras yang empuk.

Peraturan Lompat Tinggi

peraturan lompat tinggi

Dalam setiap pertandingan olahraga pasti memiliki peraturan yang diterapkan di dalamnya, begitu juga dengan lompat tinggi. Dalam pertandingan lompat tinggi, ada beberapa kali melakukan lompatan, ketika seorang atlet berhasil melakukan lompatan yang pertama, maka mistar akan dinaikkan ke tahap selanjutnya.

Mistar akan terus dinaikkan hingga mencapai puncak lompatan tertinggi dari para atlet, yang dapat melewati mistar tertinggi dialah pemenangnya.

Dalam peraturan lompat tinggi, atlet yang melakukan lompatan akan dinyatakan gagal apabila mistar jatuh tersentuh bagian tubuh atlet. Atlet yang melakukan kesalahan atau gagal melintasi mistar sebanyak tiga kali berturut-turut maka akan dikeluarkan dari pertandingan lompat tinggi.

Penjelasan rincinya sebelum perlombaan dimulai, ketua juri akan mengumumkan kepada para peserta lomba/ atlet tentang tinggi mistar permulaan yang akan dilewati dan tinggi tiang mistar berikutnya, tinggi tiang mistar akan dinaikkan pada akhir tiap babak, sampai tinggal satu atlet yang tersisa sebagai pemenang yang melakukan lompatan tertinggi.

Alat dan Fasilitas Lompat Tinggi

Alat Lompat Tinggi
Via pinterest.com

Dalam olahraga lompat tinggi atau perlombaan lompat tinggi ada beberap alat dan fasilitas yang harus di sediakan berikut alat dan fasilitas yang harus disediakan.

1. Lintasan Awalan

Lintasan awalan dan tempat tolakan lompat tinggi panjang maksimalnya tidak terbatas, sedangkan panjang minimalnya yaitu 15 meter dan lintasan awalan ini harus rata dan tidak licin.

2. Mistar

Mistar bisa terbuat dari kayu atau logam yang berbentuk bulat atau segitiga yang berdiameter minimal 25 mm-30 mm dengan permukaan yang rata. Kedua ujung Mistar dibuat agar dapat de letakkan pada kedua tiang penopang. Panjang mistar 3,64-4,02 meter dan berat mistar 2,2 kg.

3. Tiang Mistar

Tiang mistar disini yaitu kedua tiang yang digunakan untuk menopang mistar, sehingga harus kuat dan kokoh serta tinggi dan dapat digunakan untuk menikkan mistar dengan jarak 5-10 cm. Untuk tinggi minimal tiang mistar ini yaitu 2,5 meter.

4. Tempat Pendaratan

Untuk tempat pendaratan lompat tinggi yaitu berukuran 4×5 meter dan dapat ditutup dengan karet busa atau matras yang berfungsi sebagai alas pendaratan.

Lapangan Lompat Tinggi

Lapangan Lompat Tinggi

Lapangan lompat tinggi seperti yang sudah dijelaskan di fasilitas lompat tinggi yaitu memiliki lintasan awal 15 meter, seperti pada gambar lapangan lompat tinggi diatas juga panjang mistar bisa 3,98 – 4.02 meter dan tempat pendaratan dengan luas 4×5 meter dan tinggi matras atau tempat pendaratan yaitu 60 cm.

Itulah pembahasan lengkap tentang lompat tinggi, mulai dari pengertian, gaya lompat tinggi, fasilitas lompat tinggi, hingga lapangan lompat tinggi. Semoga dapat menambah pengetahuan teman-teman yang baru tau, selamat menambah ilmu baru.

Tinggalkan Balasan

Close Menu